Skip to main content

Childfree and Happy, Keputusan Sadar Hidup Bebas Anak oleh Victoria Tunggono - Ulasan Buku

 


Judul : Childfree and Happy, Keputusan Sadar Hidup Bebas Anak 

Penulis : Victoria Tunggono

Penerbit : EA Books

Bahasa : Indonesia

Jumlah Halaman : 150 halaman

 

“kebanyakan orang ingin punya anak. Tapi saya tahu anak bukanlah apa yang saya inginkan dalam hidup, apalagi dalam pernikahan.”

Hidup adalah rangkaian keputusan atas pilihan-pilihan. Dari hal paling sederhana memilih pakai baju apa, masak atau beli, jemuran disetrika atau dilipat saja. Sampai pilihan sekolah, karir, sewa rumah atau beli, perkara memilih partner hidup, kb atau tidak. Perihal anak, beberapa tahun sebelum ini aku lebih familiar dengan topik pilihan jumlah anak dalam keluarga. Pendapat umum mengatakan satu terlalu sedikit, dua cukup, tiga sudah terhitung banyak meski tak sedikit yang akhirnya beranak empat bahkan lima. Kini aku tahu, ada golongan orang yang memiliki pilihan berbeda yaitu tidak punya anak samasekali. Golongan itu bernama childfree.

Definisi Childfree atau bebas anak adalah pilihan hidup yang dibuat secara sadar oleh orang yang menjalani kehidupan tanpa ingin melahirkan atau memiliki anak.

Ditulis oleh seorang perempuan yang telah menganut konsep hidup childfree selama 22 tahun, buku ini disusun dalam 4 bab dengan jumlah halaman yang cukup dibaca dalam 1-2 kali duduk, namun menyimpan begitu banyak informasi tentang tema yang bagiku sendiri tergolong baru.

 4 bab itu antara lain

1.  Saya, Seorang Childfree

2.  Semua Hal yang Perlu Kamu Tahu Tentang Childfree

3.  Tekanan sebagai childfree

4.  Mantap hidup childfree

Yang Menarik dari Buku ini

Sebelum membaca buku ini aku hanya mengetahui samar-samar tentang childfree dari unggahan sekedar lewat di beranda instagramku; info-info singkat yang isinya sesaklek ada lho orang-orang yang tidak ingin punya anak karena memikirkan diri sendiri. Ada orang yang tidak mau direpotkan mengasuh bayi, tidak mau keluar biaya, menolak kodrat hamil dan melahirkan, tidak mau bentuk tubuh berubah, dan tidak mau tidak mau lainnya yang cenderung memojokkan dengan statement tegas childfree = egois.

Suatu hari aku bertemu buku ini dan cukup terkejut mendapati bahwa alasan seseorang menjadi chilfree ternyata lebih beragam daripada desas desus yang selama ini kubaca selintas, namun anehnya, tidak terasa egois. Misalnya memiliki gangguan kesehatan yang secara genetik menurun –seperti bipolar-,  dan ingin memutus rantai penyakit itu. Alasan lainnya karena trauma atas pengasuhan masa kecil dan tidak ingin menurunkan trauma yang tidak tuntas itu pada anaknya kelak. Ada pula orang-orang yang memiliki phobia tertentu dan memiliki anak hanya akan memicu phobia itu muncul dan, bisa dibayangkan, tentu sangat menyiksanya.




Ada pula keputusan childfree yang diambil oleh orang-orang yang pekerjaannya dekat dengan kisah-kisah sedih anak-anak mulai dari anak korban kekerasan, anak di wilayah pasca konflik,atau anak korban bencana. Melihat dengan jelas kondisi bumi yang nyata tidak baik-baik saja dan bersisian langsung dengan kisah-kisah sulit anak-anak membuat beberapa orang merasa tidak perlu menghadirkan satu anak lagi di muka bumi. Kebanyakan dari orang-orang itu juga mengabdikan hidupnya untuk mengurus lebih banyak anak lainnya lewat lembaga sosial, yayasan, panti asuhan maupun kerja-kerja sosial lainnya.

Sebagai seseorang yang bukan childfree, buku ini menyimpan arus informasi yang deras bagiku. Aku sangat menikmati cara penulis memaparkan penjelasan tentang childfree, batasan-batasan suatu kondisi dapat disebut childfree, alasan-alasan yang melatarbelakangi seseorang menjadi, tekanan-tekanan yang mereka hadapi, dan jawaban mereka atas tekanan itu. Penulis melakukan banyak riset berupa interview dengan beberapa pelaku childfree dari banyak latar belakang. Penulis juga menceritakan kisah beberapa publik figure yang berkeputusan childfree.

Buku ini juga memberiku informasi baru tentang arti dari istilah-istilah orientasi seksual ,yang ternyata ada kaitannya dengan keputusan menjadi childfree (meski memang tidak selalu terjadi pada setiap kasus). Selama ini aku hanya tahu sebatas LGBTQ. Ternyata ada juga istilah lain seperti QIAAP maupun spektrum Aro-Ace yang sangat banyak dan cukup membuat bingung juga saat awal membacanya. Betapa banyaknya hal yang tidak benar-benar kita ketahui, tapi ada.  

 


Perasaan yang kudapat saat membaca buku ini seperti mendengar seorang kawan yang bercerita tentang keyakinan yang ia hayati sepenuh hati, begitu mengalir, mendasar, dan berkesinambungan. Kawan ini yakin dengan pilihan hidupnya tanpa merasa harus memaksakan pilihannya itu untuk diambil oleh orang lain juga. Ia hanya ingin diterima apa adanya.

Buku ini memberi insight baru bahwa keputusan menjadi childfree merupakan hasil dari perenungan jangka panjang, karenanya alasan dari setiap orang bisa sangat beragam dan personal. Bahkan kalau mau bicara jujur, keputusan untuk hidup bebas-anak melewati perenungan dan pertimbangan yang lebih banyak daripada keputusan untuk punya anak.

Di dalam buku ini penulis juga membahas kenyataan adanya childfree yang kemudian beralih memiliki anak kandung beserta alasannya. Penulis menyampaikan opini bijaknya bahwa sebagai manusia  yang terus berproses mungkin saja di waktu ke depan beberapa childfree akhirnya memutuskan punya anak. Dan itu samasekali bukan masalah. Penulis sendiri mengaku telah berproses sangat lama untuk akhirnya legawa dan siap untuk suatu hari memiliki anak jika memang itu adalah takdir hidupnya, meski selama 22 tahun menjadi childfree penulis mengaku belum pernah mengubah keputusannya menjadi childfree.

Jika alasan Bebas-Anak berasal dari “akar pahit”, biasanya karma akan hadir dalam bentuk sesuatu yang membuat kita luluh untuk punya anak. Namun jika alasan Bebas-Anak berasal dari rasa kasih dari dalam diri –love based-, biasanya pemikiran ini akan bertahan.

 

Tema ini tentu saja masih cukup sensitif bagi beberapa kalangan. Aku sendiri menyikapinya dengan tangan terbuka. Jika kita seharusnya menghargai keputusan orang mau punya anak seberapa banyak pun, seharusnya kita juga seharusnya menghargai keputusan orang yang merasa kualitas hidupnya lebih baik jika tanpa kehadiran anak.  Menghargai keputusan orang yang memilih childfree sama halnya menghargai orang yang memiliki anak 1, 2, 3 dan 11 sekalipun.





Dampak Buku Ini Untukku Pribadi

Membaca bagaimana orang-orang bisa begitu kritis memaknai kehadiran anak mengingatkanku pada aku 5 tahun yang lalu, di masa-masa sebelum menikah. Kalau kupikir-pikir lagi, aku bukan orang yang memiliki keinginan pasti untuk beranak pinak. Beberapa cuplikan ingatan pengasuhan masa kecil membentuk pandanganku bahwa menjadi orangtua adalah pekerjaan yang sangat berat.

Sejak sebelum menikah aku sudah sadar konsep kewajiban menjadi orangtua tidak hanya sebatas memberi makan dan menyekolahkan anak. Menjadi orangtua juga tentang membesarkan manusia yang memiliki bawaan dan potensi alamiah, yang memerlukan cukup dukungan, kepercayaan, dan keadilan berpikir dalam merawatnya.

Menyadari hal itu, sejujurnya saat itu aku merasa tidak punya kompetensi samasekali untuk menjadi orangtua, dan karena itu aku samasekali tidak berani berdoa untuk memiliki anak, bahkan menyinggung ingin punya anak pun tidak. Kurasa aku berada antara rasa ingin memiliki keturunan akibat pengaruh nilai kelaziman dalam masyarakat namun sadar bahwa kemampuan hamil dan melahirkan itu hak prerogatif tuhan, tidak bisa dibikin-bikin manusia. Sampai akhirnya ketika menikah lalu mendapat kesempatan hamil dan melahirkan, aku melihatnya sebagai amanah yang tuhan berikan dan berarti aku sanggup mengembannya.

Anehnya, membaca buku yang jelas-jelas pembahasannya seputar tidak menginginkan kehadiran anak ini malah memberiku semacam sentilan yang melecut, bahwa aku, sebagai seorang yang memutuskan punya anak, harus benar-benar bertanggungjawab atas anak yang kuhadirkan di dunia, bukan hanya tanggung jawab merawat dan mendidik anak itu, tetapi juga memastikan agar anak yang kuhadirkan di muka bumi ini tidak menjadi sumber masalah di masyarakat, tidak menambah ekstra beban bumi yang makin sekarat.

Ketika memutuskan punya anak, aku harus melakukannya dengan bahagia dan penuh tanggungjawab juga penuh persiapan. Aku cukup tersentil dengan opini penulis yang mengatakan bahwa orangtua yang kelabakan mengurus anak adalah bukti nyata orangtua yang sebenarnya tidak siap ,dan atas ketidaksiapannya itu sebenarnya orang tua itu bisa dikatakan egois. Egois karena menghadirkan satu anak baru di muka bumi tanpa persiapan matang. Padahal sebagai manusia dewasa, punya anak itu kan harusnya pilihan sadar, bukan paksaan bukan juga kecelakaan.

Begitulah kadang nasihat kebijaksanaan bisa datang dari mana saja, bahkan dari buku yang tidak kita sangka-sangka.

Kita tidak harus menunggu sepakat dengan pendapat orang lain untuk bisa saling menghargai keputusan hidup masing-masing. Cukup pahamilah, bahwa standar bahagia setiap orang berbeda-beda.

Ah, jadi ingat sesuatu. Sampai di tahun ke empat pernikahan aku dan mas belum juga memutuskan menghadirkan tv di rumah kami. Karena satu hal ini saja kami sudah dapat banyak respon berbeda. Pertanyaannya selalu sama, kenapa ngga punya tv di rumah? ada yang langsung nembak “padahal tv murah banyak lho” seolah kami ngga punya cukup duit untuk menebusnya di toko elektronik, ada yang menyelidiki sampai dalam-dalam apakah keputusan ini berkaitan dengan bentuk idealisme tertentu. Ada juga yang sekedar memang ngga bisa mengendalikan diri untuk komentar “omah kok ngga punya tipi”.

Sedikit sekali orang yang menyambut keputusan kami hidup tanpa tv dengan respon positif sambil misalnya mengomentari tumpukan buku saya atau koleksi kamera mas yang jelas-jelas terlihat mata karena hanya barang-barang itulah yang kami punya dan kami pajang di rumah. Pernah juga seorang anak tetangga usia 4 tahun yang biasa main bersama Sekar suatu hari menyadari tak ada tv di rumah kami lalu mempertanyakan, "kok bisa ngga punya tv? Di rumah itu kan harus ada tv, seperti di rumahku ada tvnya."

Tentu hidup kami baik-baik saja tanpa merasa ada yang kurang, lagipula kami punya beberapa list sumber kebahagiaan dan tv tidak masuk di dalamnya. Begitulah contoh kecil ketika sebuah tindakan yang sebenarnya opsional tapi malah seolah jadi wajib di masyarakat, sudah terbentuk. Dari pengalaman pribadi tentang sesederhana barang elektronik ini aku bisa lebih memahami perasaan-perasaan para penganut childfree.

Buku Ini Cocok Dibaca Siapa?

Kurasa buku ini cocok dibaca usia dewasa muda sampai dewasa, rentang usia 23-40 seharusnya bisa menerima isi buku ini. Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk membuka lebih lebar pengetahuan kita dan menumbuhkan empati kepada lebih banyak jenis manusia di luar sana. Bahwa ada orang yang memutuskan beranak pinak atas dasar kasih sayang dan kesiapan adalah baik, begitu juga ada orang yang memutuskan tidak beranak atas dasar kasih sayang pun bernilai sama baiknya.

Membaca bagaimana cara para childfree berpikir bukan sebagai bahan propaganda untuk dihadapkan menjadi dua kubu lalu dibentur-benturkan untuk mencari siapa yang benar dan salah.

Membaca bagaimana cara para childfree berpikir sebagai media untuk meluaskan pemahaman bahwa hidup memang sewarna-warni itu, dengan spektrum yang sangat banyak, harapannya kita tidak berakhir menjadi seseorang yang mudah menghakimi orang lain hanya karena berbeda prinsip hidupnya dengan kita. Semoga kita tumbuh menjadi manusia yang memiliki hati luas untuk saling menghargai satu sama lain.

Rate 5/5

🌟🌟🌟🌟🌟

Comments

Popular posts from this blog

Filosofi Teras karya Henry Manampiring : Ulasan Buku

  Judul                     : Filosofi Teras Penulis                  : Henry Manampiring Ilustrasi                 : Levina Lesmana Jumlah Halaman  : 312 Bahasa                   : Bahasa Indonesia Penerbit                 : Kompas   Hai, untuk ulasan buku pertama di blog ini aku memilih buku yang menurutku spesial. Ini dia buku yang bertengger sepanjang tahun 2021 di rak-rak utama toko buku seantero negeri, best seller di banyak toko buku online. Akhirnya kuselesaikan di pertengahan tahun 2022. Inilah Filosofi Teras, dengan fokus hanya membahas 1 hal, sebuah filsafat yunani kuno bernama stoisisme. Filosofi Teras atau stosisme adalah aliran filsafat Yunani-Romawi purba berusia 2000 tahun yang memiliki tujuan: hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan. Filosofi Teras memperkenalkan istilah dikotomi kendali sebagai media yang bisa kita pakai untuk membedakan kejadian mana dalam hidup ini yang bisa kita kendalikan dan mana yang tidak. Filosof

Memandang Pernikahan

Rasanya perjalanan mencari jati diri adalah perjalanan yang paling panjang dan melelahkan yang pernah kujalani. Tidak hanya perlu kejujuran –yang berarti menghadapi semua rasa sakit dan tidak nyaman dari pengalaman masa lalu- tetapi juga keberanian untuk menelusuri kembali semua pengalaman yang sudah terjadi dalam diri,yang terungkap atau tidak, yang diceritakan atau tidak, yang diingat atau tidak. Aku merasa ada satu kebenaran yang berdiam di dalam diriku, selama ini setia menjaga siapa aku sebenarnya, untuk apa aku ada di dunia. Kebenaran ini tersimpan sangat jauh di dalam, tertutupi berbagai pengalaman dan kejadian, kalah suaranya dengan riuh rendah berbagai macam perasaan yang berkelindan menjadi sebab akibat. Hanya ketika aku sudah cukup lama melangkah dan mendengar dan membaca dan diam memperhatikan apa yang ada di sekitarku, aku akhirnya punya sedikit kemampuan untuk masuk ke dalam diri, dan mendengarkan kebenaran itu. Begitu banyak campur tangan orang lain yang akhirnya menga